Kamis, 13 November 2014

Malaikat Tanpa Sayap

Selalu nangis tiap denger atau nyanyiin lagu Malaikat Juga Tahu-nya Dewi Lestari. Bukan. Bukan karena suara gue rebek banget sampe sedih dengernya, tapi karena menurut gue, setiap kata yang dipilih oleh sang penulis punya makna yang sebegitu dalamnya.

Awalnya memang nggak ngerti-ngerti banget sama lagu ini, karena lagu ini muncul kalo gak salah pas jaman smp, dimana gue juga nggak ngerti-ngerti banget sama yang namanya cinta. Ditambah video klipnya juga menceritakan patah hatinya seseorang yang diasble karena someone he lovesnya falling in love sama kakaknya sendiri. Kalo gak salah sih gitu.

Tapi mulai kesentuh semenjak lagu ini jadi soundtrack filmnya Malaikat Tanpa Sayap. Ini adalah salah satu dari setumpuk film Indonesia yang wajib ditonton. Highly recomended! Film ini mengantarkan gue--yang waktu itu masih kelas satu SMA atau kelas dua--kepada makna dari setiap kata yang Dee tulis di lagu tersebut dengan cakupan yang lebih luas.

That love is not always about him.

Karena menurut film itu, cinta adalah rela berkoban. Untuk siapa dan kepada siapa? Just watching that movie.

Well, mulai sesenggukan pas denger lagu itu tuh yaa setahun kemarin. Waktu harus selalu baca kata Maaf dari setiap universitas negri di Indonesia. Waktu gue gak tau lagi harus kaya gimana menyikapi kegagalan yang cukup membuat anak SMA yang baru lulus ini desperate. Waktu gue harus pasrah, sabar, dan ikhlas karena gak bisa langsung kuliah kaya temen-temen yang lain. Waktu gue nganggur. Waktu gue menghabiskan waktu setahun gue itu dengan bimbel setiap hari.

Waktu papa rela tiap pagi telat masuk kantor karena harus nganter anaknya bimbel, biar gak kesiangan. Gak lupa kasih uang, ngingetin makan, dan ngejemput juga kalau anaknya harus pulang lewat jam tujuh malam karena ada kepentingan lain. Padahal semenjak punya sim, gue bawa motor sendiri. Tapi papa selalu menyempatkan waktu buat jemput kalo gue pulang malam biar seenggaknya gue aman sampai rumah.

Waktu mama rela menyisihkan sepersekian jamnya yang sibuk buat nemenin gue les bahasa inggris sore-sore. Kakek pernah protes, kenapa anak segede gini masih dianter-anter les? Mama jawab, bahaya, Pak. Dia baru keluar kelas jam tujuh, belum dia sholat dan lain-lain. Paling baru bisa pulang dari tempat les jam delapanan. Di bandungnya memang masih rame, tapi jalanan deket rumah udah sepi. 

Pada waktu-waktu seperti itu, dimana gue malem-malem pulang les ngebonceng mama, atau bawa motor tepat dibelakang motor papa, lagunya Dee suka kebayang-bayang dan selalu bikin nangis. Lelahmu, jadi lelahku juga. Bahagiamu, bahagiaku pasti. Yang namanya mama dan papa will always doing anything for me. Huft, there's nothing can dirscribe how much i love you right now.

Seperti katanya Dee, ada cinta yang nyata setia hadir setiap hari. Tak tega biarkan kau sendiri, meski sering kali kau malah asyik sendiri.

Dan Alhamdulillah lelahnya mereka menemani gue setahun kemarin enggak sia-sia.

Ma, Pa, sekarang kita jauh ya.
Kakak sendirian. Sedih sih. Cuma kan Allah udah kasih dua pilihan terbaik sama kakak kemarin, dan kakak memutuskan untuk ada di sini sekarang. Walau jadi jauh sama kalian semua, insya allah kakak bakal buktiin sama kalian, gak ada yang sia-sia episode dua. Bahwa memang keputusan kakak ini bakal ngedeketin kakak sama cita-cita kakak.

Ma, Pa, sekarang anaknya udah besar. Udah bisa ditinggal buat hidup sendirian. Masak sendiri, nyuci baju, nyuci piring. Sekarang kakak juga udah bisa ganti galon sendiri, bersihin bak, nyuci motor. Belum lagi sukses begadang dan bangun pagi setiap hari bermodalkan alarm.

Ma, Pa, have u ever imagine that we can be separated as far as today? Bahwa akhirnya, setelah delapan belas tahun hidup satu atap, mama sama papa bakal ngelepas anaknya pergi sejauh ini. Bahwa akhirnya, gadis kecil yang dulu menggenggam erat telunjuk kalian saat berjalan sekarang sudah bisa menentukan sendiri apa yang akan dia jalani.

Ma, Pa, kakak kangeeeen banget sama kalian. Pengen rasanya denger suara kalian tiap hari. Tapi kakak takut nangis hahaha kalo kakak nangis, nanti mama sama papa di sana juga ikut sedih. Jarak udah cukup bikin kita sama-sama sedih dan ngerasa kehilangan, kakak gamau ada hal lain yang bikin kita makin sedih dan makin ngerasa kehilangan.

Ma, Pa, semangat yaa kerjanya. Jangan lupa makan dan istirahat biar sehat dan bahagia. Jangan galak-galak sama Naufal (padahal kk tau mama sama papa emang gak pernah galak). Kakak bersyukur karena Allah menitipkan kakak sama orang tua seperti kalian, malaikat-malaikatku yang tanpa sayap. Sampai ketemu tahun depan. I dont love you, but you always know that im lie ♥♥♡♡. 

1 comment:

anggun - heri mengatakan...

balilihaaan T_T

sing sehat terus ya neng.. lancar kuliahnya. enjoy semarang :)

they must be proud of u.. just like i am :)

Posting Komentar